Ketika Kau Terpaksa Mengorbankan Apa Yang Kau Cintai

Ya Boy Kongming mungkin bukanlah anime terpopuler di musim ini. Akan tetapi, nilai kehidupan yang berhasil dikisahkannya membuatnya menjadi anime yang paling kurekomendasikan untuk kamu yang seringkali menemukan rintangan dalam mewujudkan mimpimu. Dan yang mengejutkan adalah nilai kehidupan ini datang dari “sekadar” tokoh sampingan di serial ini.

Warning! Konten ini mengandung spoiler episode 9 dari Ya Boy Kongming. Kebijaksanaan pembaca sangat dianjurkan.

Demi pengalaman maksimal, silakan putar lagu ini sambil membaca. Lagu ini belum rilis secara penuh makanya aku cuma bisa ambil klip dari animenya.

Entah mengapa terkadang justru tokoh sampingan di sebuah anime memiliki karakter penokohan yang jauh lebih baik ketimbang sang tokoh utama. Dan Nanami Kuon adalah buktinya, berhasil membuatku dari yang sebelumnya sekadar menikmati Ya Boy Kongming setiap pekan menjadi benar-benar jatuh cinta pada anime ini.

Nanami Kuon, sahabat dari Tsukimi Eiko sang tokoh utama di anime Ya Boy Kongming.

Bermula di SMA

Kuon sudah jatuh cinta dengan bernyanyi semenjak SMA. Berbekal bakat suaranya yang merdu dan kemampuan memainkan gitar bass yang luar biasa, ia bersama 2 temannya membentuk sebuah grup band musik rock kecil bernama Azalea. Azalea memiliki arti “kegembiraan masa muda” dibentuk dengan tujuan untuk menggerakkan hati para pendengarnya.

Setiap hari seusai sekolah mereka bertiga mengikuti berbagai konser amatir untuk menunjukkan bakat menyanyi mereka. Bersama Azalea, Kuon bisa terus melakukan apa yang ia cintai dalam hidupnya dan perlahan lahan merajut mimpinya menjadi seorang penyanyi terkenal.

Kuon dan kedua temannya membentuk grup band musik rock bernama Azalea.

Untuk meraih mimpinya itu, Kuon dan kedua temannya bertemu dengan seorang manajer band senior bernama Karasawa. Mereka berniat untuk meminta tolong Karasawa menjadi manajer Azalea. Akan tetapi, Karasawa menolak dengan alasan grup band mereka tidak akan pernah berhasil populer hanya karena ketiganya ingin menggerakkan hati para pendengarnya. Kesuksesan seseorang ditentukan dari bagaimana seseorang bisa membuat orang lain senang, bukan dengan melakukan apa yang mereka cintai. Karasawa sebagai manajer band senior jelas jauh lebih paham mengenai hal ini.

“Kesuksesan seseorang ditentukan dari bagaimana seseorang bisa membuat orang lain senang, bukan dengan melakukan apa yang mereka cintai” Salah satu quote yang paling makjleb menurutku dari Karasawa sang manajer band senior.

Alih-alih melakukan apa yang mereka bertiga cintai, Karasawa memberikan sebuah tawaran. Ia akan membuat Azalea sukses dalam sekejap dengan syarat mereka harus patuh terhadap semua arahan dari Karasawa, termasuk jenis lagu yang akan dinyanyikan dan kostum yang harus mereka pakai.

Akan tetapi, Kuon dan kedua temannya menolak mentah-mentah tawaran Karasawa. Mereka tidak percaya perkataan Karasawa dan berniat untuk terus maju dengan menggerakkan hati para pendengarnya. Mereka yakin dengan apa yang mereka yakini, Azalea bisa menjadi grup band rock terkenal di Jepang.

Menyerah

Sayangnya Azalea harus menelan kenyataan pahit bahwa penjualan tiket konser mereka selalu jauh di bawah target. Mereka tidak mampu untuk bersaing dalam industri hiburan dan musik yang kejam. Alhasil, ketiganya pun terpaksa harus menyambi dengan pekerjaan sampingan.

Kuon dan ketiga temannya. Penjualan tiket Azalea yang tidak pernah memuaskan membuat mereka terpaksa untuk menyambi pekerjaan sampingan.

Seiring dengan waktu, Azalea terus terpuruk dan gagal memenuhi target hingga sampai pada titik di mana Kuon dan ketiga temannya benar-benar tidak memiliki apa-apa lagi untuk hidup. Karena hal ini, Kuon pun terpaksa menelpon Karasawa untuk membantunya. Ia bersedia untuk melakukan apapun yang Karasawa perintahkan demi meningkatkan popularitas Azalea. Ia “menjual” identitas dari Azalea, “menggerakkan hati para pendengarnya” dengan bersedia tunduk pada perintah Karasawa demi menghidupi diri mereka yang semakin melarat.

Azalea yang Baru

Sekejap setelah kejadian itu, Azalea berubah dan muncul sebagai sebuah grup band baru yang popularitasnya meroket. Namun ini semua terjadi atas kendali Karasawa atas Kuon dan kedua temannya. Kuon dan kedua temannya diperintahkan untuk berlatih dansa. Selain itu, kostum mereka juga diubah dari yang sebelumnya kasual menjadi jauh lebih vulgar untuk meningkatkan unsur erotisme mereka. Bahkan tidak jarang Karasawa mengatakan mereka cukup bergoyang dan lipsing di panggung saja, karena sudah ada penyanyi lain yang akan menyanyikan lagu mereka di belakang panggung.

Azalea setelah dirombak oleh Karasawa. Kini Azalea sudah kehilangan identitas aslinya dan menjadi grup band yang lebih menjual goyangan-goyangan tubuh erotis. Di Indonesia mungkin kita lebih mengenalnya sebagai dangdut koplo.

Karier Nanami Kuon dan kedua temannya memang melesat dengan sangat cepat. Mereka berhasil mendapatkan popularitas yang tinggi dan membuat mereka kaya dalam waktu sekejap. Akan tetapi jauh di lubuk hati Kuon, ia sama sekali tidak bahagia. Ia menyesal telah meninggalkan apa yang ia cintai demi memuaskan keinginan orang lain.

Sampai suatu hari, takdir mempertemukannya dengan sang tokoh utama, Tsukimi Eiko. Persahabatan mereka pun dimulai semenjak saat itu.

Refleksi

Eiko dan Kuon berduet bersama sebagai musisi jalanan di Tokyo.

Jujur aku gak banyak nonton anime bergenre musik.

Serius, satu-satunya anime bergenre musik lain yang pernah kutonton adalah Vivy: Fluorite Eye’s Song. Aku jatuh cinta dengan anime Vivy karena ia berhasil menggabungkan unsur fiksi ilmiah ke dalam unsur musik yang ada di dalamnya. Aku belum pernah jatuh cinta dengan anime yang bergenre musik murni, sampai aku Kuon diperkenalkan di Ya Boy Kongming.

Terkadang kita tidak perlu sebuah cerita yang dramatis, yang penuh dengan konflik kompleks yang mindblowing. Terkadang kita juga tidak memerlukan cerita fantasi penuh plot twist. Terkadang yang kita perlukan adalah sebuah kisah yang bisa merefleksikan kehidupan sehari-hari kita. Dan aku merasa Ya Boy Kongming benar-benar sukses dalam melakukan itu.

Di dalam kehidupan kita, banyak orang yang cukup beruntung bisa melakukan apa yang ia cintai. Mereka bisa sukses dengan mewujudkan mimpi yang mereka rajut semenjak kecil. Menjadi dokter, penyanyi, pengusaha sukses. Mereka semua cukup beruntung bisa mewujudkan itu semua. Mereka punya orang tua yang cukup kaya untuk membiayai mereka sekolah. Mereka punya uang untuk ikut les menyanyi. Mereka punya warisan yang cukup untuk menjadi modal membangun sebuah usaha.

Akan tetapi, tidak semua orang seberuntung itu. Bukan mereka tidak mau, tetapi mereka tidak bisa melakukan apa yang mereka cintai. Tidak sedikit orang yang terpaksa mengorbankan semua yang mereka “cintai” demi hidup. Dan lebih parahnya lagi, tidak jarang masyarakat memandang rendah orang-orang ini.

Mungkin saja di dunia ini ada yang terpaksa membuang rasa cintanya terhadap musik karena ia tidak mampu membeli alat musik. Ada juga yang menjadi pegawai kantoran biasa alih-alih menjadi seorang pengusaha karena ia tidak punya pilihan lain. Bahkan dalam kasus ekstrem, ada pula seorang ibu tunggal yang terpaksa menjadi PSK demi menafkahi sesuap nasi untuk kedua anaknya.

Mungkin di kehidupan ini ada banyak Nanami Kuon yang lain. Kuon yang mimpinya kandas karena keadaan. Kuon yang terpaksa menjadi ART karena tidak bisa membiayai kuliah. Kuon yang terpaksa menjual harga dirinya demi memenuhi kebutuhan hidup. Kuon yang mengorbankan semua yang ia cintai karena kejamnya realita kehidupan ini.

Nanami Kuon di Ya Boy Kongming berhasil mengajarkan kita sebuah nilai kehidupan, bahwa terkadang kita mau tidak mau harus mengorbankan apa yang kita cintai. Dan itu semua bukanlah kemauan kita, itu semua bukanlah apa yang kita pilih. Melainkan karena kita memang tidak seberuntung itu untuk memiliki pilihan lain. (CS)

27/31

--

--

--

Seorang pecinta anime

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Ardy Mahdi Nugroho

Ardy Mahdi Nugroho

Seorang pecinta anime

More from Medium

It’s a set up..

The Dilemma of Humanity: How to Restore Our Fading Sense of Compassion

Blind Faith, Empiricism, and the Ability to Love

Lupin the Third: The Castle of Cagliostro